Loading...
world-news

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA - PENDIDIKAN DOKTER


Akreditasi

A

Strata

S1

Perminatan

SAINTEK

Website

https://fk.usu.ac.id

Sekilas Tentang PENDIDIKAN DOKTER

SEJARAH


Maksud untuk mendirikan Perguruan Tinggi Kedokteran di Medan ini telah menjadi bahan pembicaraan di kalangan masyarakat di Medan khususnya, di Sumatera Utara umumnya, sebelum Proklamasi Kemerdekaan RI, demikian Dr.Achmad Sofian pernah menulis. Untuk itu Dr.Pirngadi, Dr.Tengku Mansoer, Dr.M.Amir dan beberapa orang lainnya telah bekerja ke arah ini, tetapi maksud dan hasrat itu tidak disetujui oleh Pemerintah Belanda pada saat itu, dianggap bahwa satu Perguruan Tinggi Kedokteran yang telah didirikan oleh Pemerintah Belanda di Jakarta telah cukup buat Indonesia.

Sewaktu Perang Dunia II berkecamuk di Eropa dan Pemerintah Belanda telah mengungsi ke Inggris, ada juga maksud Pemerintah Belanda untuk mengubah NIAS (Nederlancsh Indische Aartsen School) di Surabaya menjadi Perguruan Tinggi Kedokteran yang kedua di Indonesia, namun maksud tersebut tidak dapat diwujudkan, karena pada waktu itu Indonesia telah diduduki oleh Jepang.

Di zaman pendudukan Jepang beberapa orang terkemuka di kota Medan, seperti Dr.Pirngadi, Dr.Tengku Mansoer dan lain-lain telah membuat rancangan Perguruan Tinggi Kedokteran sekali lagi, namun maksud ini juga tidak dilanjutkan.

Pada tahun 1946, masih dalam pergolakan sesudah kemerdekaan diproklamirkan, maksud ini muncul lagi ke permukaan. Ketika Mr.Teuku Moh.Hasan menjadi Gubernur Propinsi Sumatera telah pula diangkat Dr.Moh.Jamil yang berkedudukan di Bukit Tinggi sebagai ketua dari sebuah panitia yang ditugaskan untuk mempelajari kemungkinan didirikannya sebuah perguruan tinggi di Sumatera. Panitia ini antara lain ditugaskan untuk menentukan jenis serta tempat fakultas yang akan didirikan.

Panitia tersebut telah mengusulkan untuk mendirikan sebuah Fakultas Kedokteran. Untuk menentukan tempat Fakultas Kedokteran yang akan didirikan, dikirimlah Dr.Mohd.Jamil ke Pematang Siantar guna berembuk dengan beberapa pemuka masyarakat dan dokter-dokter yang ada di daerah Sumatera Utara. Pada waktu itu amat besar kemungkinan untuk mendirikan Perguruan Tinggi Kedokteran di Kota Medan, tetapi malang, hal ini tidak dapat dilaksanakan berhubung dengan terjadinya clash pertama tahun 1947.

Setelah peralihan kedaulatan, kiranya hasrat untuk mendirikan Fakultas Kedokteran di kalangan masyarakat di Sumatera Utara tidak pernah hilang. Pada awal 1950, Dr.T.Mansoer, wali Negara Sumatera Timur (Negara Bagian dalam RIS) meminta kepada Inspektur Kesehatan Sumatera Timur untuk mulai melengkapi Rumah Sakit Kota Medan dan kalau perlu menjadikan sebuah Rumah Sakit Umum, guna mendukung rencana tersebut.

Dr.A.Sofian ditugaskan untuk mengajukan rencana pembangunan Rumah Sakit Kota agar Rumah Sakit tersebut selanjutnya dapat dijadikan Rumah Sakit Perguruan Tinggi. Setelah rencana itu dimajukan, diadakan suatu sidang yang diketuai oleh Inspektur Kesehatan Negara Sumatera Timur. Peserta yang hadir pada waktu itu adalah Dokter Pemimpin Rumah Sakit Kota, Pemimpin Laboratorium Patologi, Ketua Persatuan Dokter Indonesia, Pemimpin Rumah Sakit Paru-Paru (Dr.Gerlach) dan beberapa tokoh lainnya. Akhirnya diambil keputusan untuk menjadikan Rumah Sakit Kota itu menjadi Rumah Sakit Umum yang diurus langsung oleh Pemerintah Negara Sumatera Timur.

Dalam pada itu pergolakan politik di Indonesia sangat cepat jalannya dan pada tanggal 17 Agustus 1950 semua Negara Bagian dari RIS lenyap dengan berdirinya Negara Republik Indonesia, Negara Kesatuan yang kedua. Sehubungan dengan hal itu, Rumah Sakit Umum yang terletak di Jalan Serdang ( Jl. Prof.H,M Yamin, SH ) Medan diurus oleh Pemerintah Pusat/Kementrian Kesehatan di Jakarta.

Di Sumatera Utara ditempatkan Gubernur Sarimin sebagai Gubernur Sumatera Utara, tak lama kemudian itu digantikan oleh Abdoel Hakim. Rupanya maksud mendirikan Fakultas Kedokteran belum dilupakan begitu saja. Oleh beberapa kalangan masyarakat di Sumatera Utara, antara lain Dr.T.Mansoer, telah diajukan usulan kepada Gubernur dan juga nota oleh Dokter Pemimpin Rumah Sakit Umum di Medan dalam triwulan keempat tahun 1951. Hal-hal ini menjadi pendorong kepada Gubernur untuk mengambil inisiatif mengajukan kepada rakyat di Sumatera Utara untuk mengumpulkan dana guna mendirikan sebuah Universitas di daerah ini.

Penentuan jenis fakultas yang akan didirikan lebih dahulu, diserahkan kepada suatu panitia yang akan segera dibentuk, tanpa menunggu reaksi dari masyarakat dan tanpa menunggu hasil pemungutan sumbangan dari rakyat. Oleh Gubernur, dengan surat keputusannya tanggal 31 Desember 1951 No.94/XII/PSU dibentuk sebuah Panitia Persiapan untuk mendirikan Perguruan Tinggi yang berkedudukan di Kota Medan.

Di dalam Panitia itu duduk :

  1. Dr.R.Soemarsono, Kepala Jawatan Kesehatan Rakyat Propinsi Sumatera Utara, sebagai Ketua merangkap anggota.
  2. Dr.Ahmad Sofian, Dokter Pemimpin Rumah Sakit Umum di Medan
  3. Ir.Danunagoro, Kepala Jawatan Pekerjaan Umum dan Tenaga Propinsi Sumatera Utara di Medan,
  4. Mr.Djaidin Poerba, Walikota Medan, masing-masing sebagai anggota.
  5. Tengku Oesman Fachroeddin, pegawai pada Kantor Gubernur Sumatera Utara, sebagai Sekretaris Panitia.

Di samping itu Panitia telah mengajukan usulan kepada Gubernur untuk mengangkat seorang wakil dari Jawatan PP dan K. Sesudah mengadakan pertemuan beberapa kali yang menunjukkan semangat kerjasama yang rapi sekali, maka pada tanggal 19 Maret 1952 Panitia tersebut mengambil suatu keputusan untuk dimajukan kepada Gubernur, yang isi ringkasnya adalah sebagai berikut :

I. Maksud untuk mendirikan sebuah Universitas di Sumatera Utara dapat diwujudkan secara berangsur-angsur.
II.Di Medan dapat didirikan Fakultas Kedokteran mengingat faktor-faktor yang berikut :

  1. Bahan pelajaran berupa orang sakit cukup banyak dijumpai jumlah dan ragamnya di daerah ini.
  2. Di Medan ada Laboratorium Patologi yang dapat dipergunakan untuk permulaan pelajaran Biokimia, Patologi, Bakteriologi dan sebagainya.
  3. Dosen-dosen untuk berbagai cabang ilmu, kecuali ilmu preklinik, dapat didatangkan ataupun diusahakan.
  4. Sekolah SMA cukup banyak di Sumatera Utara.
  5. Perhatian murid tamatan SMA bagian B ( sekarang IPA ) cukup memuaskan untuk melanjutkan pelajaran kejuruan ilmu kedokteran dan obat-obatan. Perhatikanlah betapa banyak setiap tahun pemuda tamatan SMA yang membanjiri Fakultas Kedokteran di Jakarta, Yogyakarta dan Surabaya.
  6. Tanah yang cukup luas akan dapat diperoleh dari pihak kotapraja Medan.
  7. Alat-alat yang perlu untuk Fakultas Kedokteran dapat segera dipesan, berkat sumbangan dari seluruh rakyat Sumatera Utara.
  8. Uang untuk keperluan fakultas itu dapat diikhtiarkan lebih lanjut sehingga gedung yang perlu dapat didirikan segera.

 III.Fakultas Kedokteran yang dimaksud dapat dimulai dengan segera pada permulaan tahun ajaran 1952-1953, apabila :

  1. Gedung yang diperlukan telah ada atau dapat dipergunakan gedung yang segera dapat dikosongkan.
  2. Dosen-dosen untuk Fisika, Kimia, Zoologi, Botani dan Parasitologi telah diperdapat dan apabila perlu kuliah-kuliah untuk sementara dapat diberikan dalam bahasa asing. Pada waktu itu dari kalangan bangsa asing yang dianggap mampu untuk memberikan pelajaran-pelajaran tersebut pada perguruan tinggi, yang terbanyak adalah bangsa Belanda.
  3. Serentak dengan pembukaan Fakultas Kedokteran, harus diadakan perluasan Rumah Sakit Umum di Jalan Serdang Medan, sehingga kapasitasnya mencapai peling sedikit sebanyak 1000 tempat tidur. Jika hal ini tidak dapat dilaksanakan secepat mungkin harus didirikan sebuah rumah sakit Universitas di bagian kota yang akan ditentukan kelak.
  4. Dapat dijamin perumahan untuk dosen-dosen serta pembantunya. Harus diusahakan pula untuk menerjemahkan kuliah-kuliah ke dalam bahasa Indonesia untuk membantu mahasiswa dalam pelajarannya. Juga dianjurkan mengadakan kursur aplikasi bahasa Inggris untuk mahasiswa pada tahun pertama dan mengadakan kursus bahasa Indonesia untuk dosen-dosen asing.

 

Panitia itu juga telah mengemukakan syarat-syarat yang harus dipenuhi, supaya dalam tahun 1952 itu juga dapat didirikan fakultas tersebut. Sesudah anjuran Panitia diterima dengan baik, maka diambillah keputusan untuk mendirikan terlebih duhulu sebuah yayasan dengan tujuan untuk :

  1. Mengadakan perguruan tinggi tempat mendidik, untuk memperoleh ilmu pengetahuan buat memegang jabatan di kemudian hari.
  2. Memperhatikan kepentingan mahasiswa dalam arti yang seluas-luasnya.
  3. Mengumpulkan dan mengawasi keuangan untuk menutup ongkos-ongkos yang bakal diperlukan.

Yayasan itu didirikan pada tanggal 4 Juni 1952 di hadapan Notaris Soetan Pane Paroehoem di Medan diberi nama YAYASAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA, yang berkedudukan di Medan.

Yayasan tersebut diurus oleh suatu Dewan Pimpinan yang diketuai oleh Gubernur Propinsi Sumatera Utara. Telah diambil keputusan utnuk mendirikan Fakultas Kedokteran dan yayasan telah mengutus Dr.Ahmad Sofian ke Kementrian PP dan K untuk membicarakan segala sesuatunya dengan Menteri pada waktu itu yaitu Prof.Bahder Djohan. Kementrian PP dan K meneruh simpati yang sangat besar akan maksud yayasan dan minat Gubernur Propinsi Sumatera Utara itu dan menjanjikan bantuan yang dapat dan mungkin diberikan oleh Pemerintah. Pemerintah menganggap maksud yayasan itu sebagai suatu eksperimen yang besar namun terlalu banyak kesulitan dan resikonya. Sungguhpun demikian Pemerintah berjanji akan menyokong usaha tersebut.

Telah diadakan juga pembicaraan yang luas dengan Menteri Kesehatan Dr.Leimena dan Sekretaris Jendralnya Dr.Pirngadi. Kementerian Kesehatan berjanji akan menyokong usaha yayasan itu dengan memperhatikan keperluan Fakultas Kedokteran seperti menempatkan tenaga yang akan dapat membentu memberikan kuliah dan lain-lain. Kementerian Kesehatan juga tidak keberatan apabika beberapa dokter Rumah Sakit Umum di Medan memberikan bantuannya. Sepulangnya utusan tersebut dari Jakarta, Dewan Yayasan USU menjadi semakin kokoh pendiriannya untuk mendirikan Fakultas Kedokteran.

Pada tanggal 30 Juni 1952 Dewan Pimpinan Yayasan USU telah mengangkat Dr.Ahmad Sofian sebagai Presiden Kurator yang diberi tugas mempersiapkan pendirian Fakultas Kedokteran. Juga telah diputuskan untuk membuka Fakultas Kedokteran tersebut pada Hari Proklamasi 17 Agustus 1952. Setelah berembuk dengan kepala Polisi Propinsi Sumatera Utara, Komisaris Besar Darwin Karim, maka diputuskan untuk mengosongkan bangunan yang terletak di belakang gedung SMA Negeri Jalan Seram yang pada waktu itu masih dipergunakan sebagai asrama polisi. Bangunan ini sebelum Perang Dunia II dipergunakan sebagai tempat sekolah.

Pada mulanya Ir. R van der Waal mengajar Botani kemudian digantikan oleh Ir.Tan Hong Tong. Kemudian dalam bulan Nopember 1952 Drs.C.H.D Steinmetz diangkat sebagai dosen dalam mata kuliah Fisika dan Drh.Sahar, Kepala Jawatan Kehewanan Propinsi Sumatera Utara, ditunjuk sebagai dosen Zoologi.

Di samping mendapat bantuan dari berbagai pihak, tidak kurang pula cemooh dari kritik dikeluarkan, sebab banyak orang mengira bahwa Fakultas Kedokteran itu tidak dapat didirikan secepat itu. Maklumlah pada waktu itu belum ada suatu alatpun yang dipesan ke luar negeri dan pengosongan oleh pihak polisi belum lagi dilakukan sepenuhnya. Untunglah pada permulaan bulan Agustus 1952 satu bagian telah dapat dikosongkan, sehingga dapat dipersiapkan untuk menerima tamu-tamu yang akan datang.

Dalam pada itu ruangan yang akan dipergunakan untuk belajar telah kosong dan diperbaiki/ ditata sedemikian rupa, sehingga dapat dipergunakan untuk kuliah tahun pertama Fakultas Kedokteran. Murid-murid tamatan SMA dari berbagai tempat telah pula mendaftarkan namanya, tetapi kebanyakan dari mereka itu tidak memenuhi syarat yang ditentukan oleh Kementerian PP dan K. Hanya 26 orang yang dapat diterima, diantaranya 3 orang wanita.

Pada saat itu Yayasan USU telah menunjuk Sdr.Alim gelar Soetan Maharaja Besar di Jakarta sebagai wakil Yayasan dengan maksud melancarkan hubungan antara Fakultas Kedokteran Yayasan USU dengan Kementerian-kementerian di Jakarta, (terutama Kementerian PP dan K serta Kementerian Kesehatan) dan fakultas-fakultas yang di Jawa. Beliau juga telah mewakili Fakultas Kedokteran Medan pada upacara-upacara penting di berbagai fakultas di Indonesia.

Setelah berembuk dengan Kementerian PP dan K dan Kementerian Kesehatan, ditetapkanlah oleh Yayasan pembukaan FAKULTAS KEDOKTERAN pada tanggal 20 AGUSTUS 1952, dan beberapa Menteri diharapkan dapat datang ke Medan untuk menghadiri upacara pembukaan itu.

Pada tanggal 16 Agustus 1952 Dr.Ahmad Sofian diberhentikan sebagai Presiden Kurator dan digantikan oleh Walikota Medan yang pada waktu itu adalah Sdr.A.M. Djalaluddin. Sebagai Wakil Presiden Kurator diangkat Dr.Wasidin dan sebagai anggota adalah Mr.Moh. Joesoef, Liem Ghien Giam, Tan Boen Djien, M.Gani, Asril serta Dekan Fakultas. Sebagai Sekrertaris Dewan Kurator bertindak Ny.Mr.Ani Abbas Manoppo. Sejalan dengan hal tersebut, Dewan Pimpinan telah menentukan Dewan Fakultas yang terdiri dari Dr.Ahmad Sofian sebagai Dekan, Dr.Ildrem sebagai Sekretaris serta Dr.Maas dan Dr.T.Mansoer sebagai anggota.

 

Masa Perkembangan

Seluruh mahasiswa Fakultas Kedokteran USU bahu membahu dengan pimpinan fakultas dalam membangun dan mengembangkan Fakultas Kedokteran USU yang usianya masih sangat muda tersebut.

Pada tgl. 1 September 1952, Fakultas Kedokteran USU dipimpin oleh Dr. A. Sofian sebagai Dekan, Dr. Maas sebagai Wakil Dekan dan Dr. M. Ildrem. sebagai sekretaris. Beberapa tahun berikutnya (1956) WHO memberikan bantuan alat-alat Fisiologi dan berapa tenaga pengajar dari WHO untuk Fakultas Kedokteran USU.

Pada tgl. 12 Maret 1953 Wakil Presiden Drs. Mohd. Hatta, mengunjungi Fakultas Kedokteran, dan pada tgl. 17 Mei 1954, tim dari Departemen P dan K, yang terdiri dari Prof. Dr. Djuned Pusponegoro dan Prof. R. Sarwono meninjau Fakultas Kedokteran USU serta mengharapkan agar semua staf dan mahasiswa bekerja keras dalam masa pertumbuhan dan perkembangan ini.

Dalam masa perkembangan tersebut, pada tanggal 15 Januari 1970, dilaksanakan peletakan batu pertama gedung induk FK USU di Jalan Dr. T.Mansur Medan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Utara, Marah Halim Harahap, dan pada tanggal 28 Desember 1970, gedung induk FK USU tersebut diresmikan oleh Presiden Soeharto.

Sampai saat ini Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara telah melakukan banyak pembenahan dari seluruh komponen yang ada. Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia sebagai pelaksana seluruh kegiatan yang ada di FK USU maupun pembangunan Sarana dan Prasarana dalam upaya mendukung proses belajar mengajar dilakukan secara berkesinambungan.

Perkembangan program kegiatan akademik di PSPD FK USU terus berlanjut dengan dibukanya kelas internasional pada tahun 2002, dimana lulusan PSPD FK USU merupakan 1 dari 5 program studi pendidikan dokter yang lulusannya diakui oleh   Malaysian Medical Council (MMC), yang merupakan pengakuan terhadap kualitas lulusan PSPD FK USU, dimana hal ini semakin mengukuhkan kedudukan FK USU di dunia pendidikan.

Saat terjadi perubahan kurikulum pendidikan dokter di Indonesia, yang sebelumnya adalah Kurikulum Inti Pendidikan Dokter Indonesia (KIPDI) menjadi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). PSPD FK USU dianggap siap untuk melaksanakan pendidikan KBK sejak tahun 2006 berdasarkan penilaian Kemenristekdikti, dan ini merupakan salah satu institusi yang awal melaksanakan KBK di Indonesia bagian Barat luar Pulau Jawa.

Struktur organisasi PSPD filosofi Pendidikan berubah setelah KBK, dimana perencana pendidikan dokter adalah Medical Education Unit (MEU) yang terdiri dari divisi Kurikulum, divisi Sumber Daya Manusia (SDM), divisi Laboratorium Keterampilan (Skills Lab), divisi Assessment, dan divisi Bioetik, Hukum, dan Medikolegal sesuai dengan kebijakan nasional. Filosofi pendidikan beralih dari teacher centered menjadi S-P-I-C-E-S (Student centered – Problem based – Integrated – Community oriented – Early clinical exposure – Systematic). Maka    strategi pembelajaran yang semula didominasi oleh didaktik (kelas besar dan berfokus pada dosen) bergeser menjadi berfokus pada mahasiswa dengan metode pembelajaran Tutorial (kelas kecil), Skills Lab, Pleno, meskipun masih ada kelas besar dengan proporsi terbatas.

Dengan demikian, sarana prasarana juga mengikuti perubahan. Rasio mahasiswa terhadap sarana prasarana termasuk ruang tutorial untuk kelas-kelas kecil, ruang labooratorium keterampilan, computer, dan rasio dosen terhadap mahasiswa juga mengalami perubahan sesuai dengan Standar Pendidikan Dokter Indonesia, dan dalam upaya capaian pembelajaran yang tercantum di dalam Standar Kompetensi Dokter Indonesia.  

Tahun 2000, Badan Akreditasi Nasional Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia memberikan Akreditasi A kepada PSPD FK USU, dan sempat turun menjadi Akreditasi B selama beberapa tahun. Namun dengan kerja keras semua fihak, peringkat akreditasi A direbut kembali hingga saat ini masih terus dipertahankan PSPD FK USU. (HS)

LAB

Penelitian adalah salah satu elemen dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yang merupakan pondasi bagi setiap individu yang terlibat dalam proses pendidikan dan merupakan implementasi dari keberhasilan pendidikan itu sendiri. Penelitian yang bermutu akan berdayaguna bagi kemajuan pendidikan, khususnya pendidikan kedokteran dan bermanfaat bagi masyarakat. Untuk mendukung hal ini, FK USU mengembangkan fasilitas penelitian berupa kaboratorium terpadu yang sejak tahun 2014 telah berganti nama menjadi Laboratorium Penelitian FK USU yang terdiri dari :

- Laboratorium Sitogenetika

- Laboratorium Imunologi

- Laboratorium PCR dan pre-PCR

- Laboratorium Infeksi

- Laboratorium Elektroforesis dan Spektrofotometr.

PROGRAM STUDI

VISI

Mewujudkan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara menjadi institusi penyelenggara pendidikan kedokteran yang bermutu pada tahun 2024, menuju centre of excellence kedokteran tropis dan onkologi pencegahan di Asia Tenggara dalam mendukung visi Universitas Sumatera Utara menjadi lembaga pendidikan dengan bidang unggulan kompetitif TALENTA.

MISI

  1. Meningkatkan mutu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat dengan konsisten, efektif dan efesien, serta sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran, dengan tatakelola organisasi (good faculty governance) dan sistem penjaminan mutu yang baik.
  2. Menghasilkan lulusan yang menjadi pelaku perubahan sebagai kekuatan modernisasi dalam kehidupan masyarakat luas, yang memiliki kompetensi keilmuan, relevansi, dan daya saing yang kuat serta berperilaku kecendekiawanan yang professional dan beretika dalam bingkai interprofessional education/collaboration (IPE/IPC).
  3. Mewujudkan kepemimpinan publik melalui kebermanfaatan penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat yang memberi dampak pada epidemiologi terutama penyakit-penyakit tropis dan onkologi pencegahan, yang berorientasi produk dan pengembangan keilmuan.
  4. Mewujudkan fakultas yang mandiri dan profesional dalam pengelolaan dan pengembangan institusi serta membangun kerjasama dengan institusi lain yang berada di dalam maupun luar negeri terutama di bidang kedokteran tropis dan onkologi pencegahan.